Status Gizi Masyarakat Merupakan Dampak
dari Tingkat Status Ekonomi
Subandi, M., M.
Tsani Abdulhakim.
ABSTRAK: Gizi adalah suatu hasil proses
organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses
digesti, absobsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran
zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan
fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi. Status gizi adalah
ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu atau dapat
dikatakan bahwa status gizi merupakan indikator baik-buruknya penyediaan
makanan sehari-hari. Beberapa faktor yang memengaruhi status gizi seseorang
yaitu faktor lingkungan, faktor ekonomi, faktor sosial-budaya, faktor
biologis/keturunan, dan faktor religi.
Pendahuluan
Di
banyak negara yang secara ekonomis kurang berkembang, sebagian besar
penduduknya berukuran lebih pendek karena gizi yang tidak mencukupi dan pada
umunya masyarakat yang berpenghasilan rendah mempunyai ukuran badan yang lebih
kecil.
Keadaan
gizi dan kesehatan masyarakat tergantung pada tingkat konsumsi, Dewasa ini
Indonesia menghadapi masalah gizi ganda, yakni masalah gizi kurang dan masalah
gizi lebih. Masalah gizi kurang umumnya disebabkan oleh kemiskinan, kurangnya
persediaan pangan, kurang baiknya kualitas lingkungan (sanitasi), kurangnya
pengetahuan masyarakat tentang gizi, menu seimbang dan kesehatan, dan adanya
daerah miskin gizi (iodium). Sebaliknya masalah gizi lebih disebabkan oleh
kemajuan ekonomi pada lapisan masyarakat tertentu yang disertai dengan minimnya
pengetahuan tentang gizi, menu seimbang, dan kesehatan. Dengan demikian,
sebaiknya masyarakat meningkatkan perhatian terhadap kesehatan guna mencegah
terjadinya gizi salah (malnutrisi) dan risiko untuk menjadi kurang gizi.
Tingginya
angka kematian ini juga dampak dari kekurangan gizi pada penduduk. Mulai dari
bayi dilahirkan, masalahnya sudah mulai muncul, yaitu dengan banyaknya bayi
lahir dengan berat badan rendah (BBLR<2.5 Kg). Masalah ini berlanjut dengan
tingginya masalah gizi kurang pada balita, anak usia sekolah, remaja, dewasa
sampai dengan usia lanjut.
Masalah
gizi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat, namun
penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan
kesehatan saja. Penyebab timbulnya masalah gizi adalah multifaktor, oleh karena
itu pendekatan penanggulangannya harus melibatkan berbagai sektor yang terkait.
Suatu
penyakit timbul karena tidak seimbangnya berbagai faktor, baik dari sumber
penyakit (agens), pejamu (host) dan lingkungan (environment). Hal itu disebut
juga dengan istilah penyebab majemuk (multiple causation of diseases) sebagai
lawan dari peiiyebab tunggal (single causation).
Tinjauan Pustaka
Semua manusia memperoleh kebutuhan
zat gizi dari bahan makanan lebih dari lima puluh macam zat gizi penting telah
diidentifikasi. Semua zat gizi penting ini harus terdapat dalam jumlah sesuai
agar diperoleh gizi seimbang. Komposisi zat gizi bahan makanan biasanya
dinyatakan dalam bentuk kandungan protein,asam amino, lemak, asamlemak,
karbohidrat, vitamin, garam mineral dan air.
Zat gizi adalah komponen pembangun
tubuh manusia. Zat tersebut dibutuhkan untuk pertumbuhan, mempertahankan dan
memperbaiki jaringan tubuh, mengatur proses dalam tubuh dan menyediakan energi
tubuh. Misalnya sumber kebutuhan pokok makanan berasal dari seperti beras,
jagung, sagu, umbi-umbian, gandum, serealia, dan lain-lain. Didalam bahan
makanan tersebut terdapat kandungan gizi yang dibutuhkan manusia.
Zat gizi golongan protein, lemak, karbohidrat
disebut zat gizi makro, sedang vitamin dan mineral disebut zat gizi mikro. Air
juga merupakan bagian penting dari gizi yang dibutuhkan.
2.1
Karbohidrat
Karbohidrat tersusun atas unsur C,H,4,O,karbohidrat
membentuk monosakarida,disakarida dan polisakarida.
Fungsi karbohidrat :
1.
Sebagai sumber energi
2.
Bahan pembentuk protein dan lemak
3. Menjaga keseimbangan asam dan basa
Jika bahan makanan tersebut mengandung amilum, apabila
ditetesi lugol maka warnanya berubah menjadi biru sampai hitam.
2.2
Gula
Gula (glukosa) juga termasuk kedalam karbohidrat, yang
tersusun dari unsur-unsur C,H,O. Gula merupakan salah satu jenis monosakarida
yang memiliki 6 atom C (heksosa). Gula umumnya bersifat manis dan mudah larut
dalam air.
Jika bahan makanan tersebut mengandung karbohidrat, apabila ditetesi fehling A
dan B maka warnanya beruba menjadi hijau sampai orange.
2.3
Protein
Protein tersusun atas unsur-unsur C, H, O, N dan asam amino,
serta kadang-kadang juga mengandung unsur S dan P. Asam amino dibagi menjadi
dua yaitu, asam amino esensial (yang tidak dapat dibuat sendiri oleh tubuh) dan
asam amino non esensial (yang dapat dibuat sendiri oleh tubuh).
Fungsi Protein
1. sebagai zat pembangun
2. sebagai sumber energi
3. pengganti sel-sel yang rusak
4. mempertahankan viskositas
(kekentalan) darah jika bahan makanan tersebut mengandung protein , apabila
ditetesi biuret maka warnanya akan berubah menjadi ungu.
2.4 Lemak
Lemak tersusun atas unsur C, H, O. Lemak merupakan ester
dari asam lemak dengan gliserin yang membentuk trigiserida.
Fungsi
lemak :
1.
sebagai sumber energi
2. pelarut Vitamin A, D, E, K dan Zat lain
3. pelindung alat-alat tubuh yang
vital
4. salah satu bahan penyusun Hormon
dan Vitamin bahan makan yang mengandung lemak apabila ditetesi etanol maka akan
terbentuk emulsi putih keruh.
Pembahasan
Pengertian Gizi
Gizi
adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara
normal melalui proses digesti, absobsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme
dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan,
pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi.
Tak
satu pun jenis makanan yang mengandung semua zat gizi, yang mampu membuat
seseorang untuk hidup sehat, tumbuh kembang dan produktif. Oleh karena itu,
setiap orang perlu mengkonsumsi anekaragam makanan; kecuali bayi umur 0-4 bulan
yang cukup mengkonsumsi Air Susu Ibu (ASI) saja. Bagi bayi 0-4 bulan, ASI
adalah satu-satunya makanan tunggal yang penting dalam proses tumbuh kembang
dirinya secara wajar dan sehat.
Makan
makanan yang beranekaragam sangat bermanfaat bagi kesehatan. Makanan yang
beraneka ragam yaitu makanan yang mengandung unsur-unsur zat gizi yang
diperlukan tubuh baik kualitas maupun kuantintasnya, dalam pelajaran ilmu gizi
biasa disebut triguna makanan yaitu, makanan yang mengandung zat tenaga,
pembangun dan zat pengatur. Apabila terjadi kekurangan atas kelengkapan
salah satu zat gizi tertentu pada satu jenis makanan, akan dilengkapi oleh zat
gizi serupa dari makanan yang lain. Jadi makan makanan yang beraneka ragam akan
menjamin terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga, zat pembangun dan zat
pengatur.
Makanan
sumber zat tenaga antara lain: beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi jalar,
kentang, sagu, roti dan mi. Minyak, margarin dan santan yang mengandung lemak
juga dapat menghasilkan tenaga. Makanan sumber zat tenaga menunjang aktivitas
sehari-hari.
Makanan
sumber zat pembangun yang berasal dari bahan makanan nabati adalah
kacang-kacangan, tempe, tahu. Sedangkan yang berasal dari hewan adalah telur,
ikan, ayam, daging, susu serta hasil olahan, seperti keju. Zat pembangun
berperan sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan
seseorang.
Makanan
sumber zat pengatur adalah semua sayur-sayuran dan buah-buahan. Makanan ini
mengandung berbagai vitamin dan mineral, yang berperan untuk melancarkan
bekerjanya fungsi organ-organ tubuh.
B. Definisi Status Gizi
Status
gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu
atau dapat dikatakan bahwa status gizi merupakan indikator baik-buruknya
penyediaan makanan sehari-hari. Adapun definisi lain menurut Suyatno, Ir. Mkes,
Status gizi yaitu Keadaan yang diakibatkan oleh status keseimbangan antara
jumlah asupan (“intake”) zat gizi dan jumlah yang dibutuhkan (“requirement”)
oleh tubuh untuk berbagai fungsi biologis: (pertumbuhan fisik, perkembangan,
aktivitas, pemeliharaan kesehatan, dan lainnya). Status gizi yang baik
diperlukan untuk mempertahankan derajat kebugaran dan kesehatan, membantu
pertumbuhan bagi anak, serta menunjang pembinaan prestasi olahragawan. Status
gizi ini menjadi penting karena merupakan salah satu faktor risiko untuk
terjadinya kesakitan atau kematian. Status gizi yang baik pada seseorang akan
berkontribusi terhadap kesehatannya dan juga terhadap kemampuan dalam proses
pemulihan kesehatan. Status gizi juga dibutuhkan untuk mengetahui ada atau
tidaknya malnutrisi pada individu maupun masyarakat. Dengan demikian, status
gizi dapat dibedakan menjadi gizi kurang, gizi baik, dan gizi lebih.
C. Indikator Status Gizi
Indikator
status gizi yaitu tanda-tanda yang dapat memberikan gambaran tentang keadaan
keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat gizi oleh tubuh. Indikator status
gizi umumnya secara langsung dapat terlihat dari kondisi fisik atau kondisi
luar seseorang.
contoh: pertumbuhan fisik → ukuran tubuh → antropometri
(berat badan, tinggi badan, dan lainnya).
D. Faktor-Faktor yang Memengaruhi
Status Gizi Seseorang
§ Faktor Lingkungan
Lingkungan yang buruk seperti air
minum yang tidak bersih, tidak adanya saluran penampungan air limbah, tidak
menggunakan kloset yang baik, juga kepadatan penduduk yang tinggi dapat
menyebabkan penyebaran kuman patogen. Lingkungan yang mempunyai iklim tertentu
berhubungan dengan jenis tumbuhan yang dapat hidup sehingga berhubungan dengan
produksi tanaman.
§ Faktor Ekonomi
Di banyak negara yang secara
ekonomis kurang berkembang, sebagian besar penduduknya berukuran lebih pendek
karena gizi yang tidak mencukupi dan pada umunya masyarakat yang berpenghasilan
rendah mempunyai ukuran badan yang lebih kecil.
Masalah gizi di negara-negara miskin yang berhubungan dengan
pangan adalah mengenai kuantitas dan kualitas. Kuantitas menunjukkan penyediaan
pangan yang tidak mencukupi kebutuhan energi bagi tubuh. Kualitas berhubungan dengan
kebutuhan tubuh akan zat gizi khusus yang diperlukan untuk petumbuhan,
perbaikan jaringan, dan pemeliharaan tubuh dengan segala fungsinya.
§ Faktor Sosial-Budaya
Indikator masalah gizi dari sudut pandang sosial-budaya
antara lain stabilitas keluarga dengan ukuran frekuensi nikah-cerai-rujuk,
anak-anak yang dilahirkan di lingkungan keluarga yang tidak stabil akan sangat
rentan terhadap penyakit gizi kurang. Juga indikator demografi yang meliputi
susunan dan pola kegiatan penduduk, seperti peningkatan jumlah penduduk,
tingkat urbanisasi, jumlah anggota keluarga, serta jarak kelahiran.
Tingkat pendidikan juga termasuk dalam faktor ini. Tingkat
pendidikan berhubungan dengan status gizi karena dengan meningkatnya pendidikan
seseorang, kemungkinan akan meningkatkan pendapatan sehingga dapat meningkatkan
daya beli makanan.
§ Faktor Biologis/Keturunan
Sifat yang diwariskan memegang kunci bagi ukuran akhir yang
dapat dicapai oleh anak. Keadaan gizi sebagian besar menentukan kesanggupan
untuk mencapai ukuran yang ditentukan oleh pewarisan sifat tersebut. Di
negara-negara berkembang memperlihatkan perbaikan gizi pada tahun-tahun
terakhir mengakibatkan perubahan tinggi badan yang jelas.
§ Faktor Religi
Religi atau kepercayaan juga berperan dalam status gizi
masyarakat, contohnya seperti tabu mengonsumsi makanan tertentu oleh kelompok
umur tertentu yang sebenarnya makanan tersebut justru bergizi dan dibutuhkan
oleh kelompok umur tersebut. Seperti ibu hamil yang tabu mengonsumsi ikan.
E. Akibat yang Ditimbulkan Karena
Gizi Salah (Malnutrisi)
Gizi salah berpengaruh negatif terhadap perkembangan mental,
perkembangan fisik, produktivitas, dan kesanggupan kerja manusia. Gizi salah
yang diderita pada masa periode dalam kandungan dan periode anak-anak,
menghambat kecerdasan anak. Anak yang menderita gizi salah tingkat berat
mempunyai otak yang lebih kecil daripada ukuran otak rata-rata dan mempunyai
sel otak yang kapasitasnya 15%-20% lebih rendah dibandingkan dengan anak yang
bergizi baik. Studi di beberapa negara menunjukkan bahwa anak yang pernah
menderita gizi salah, hasil tes mentalnya kurang bila dibandingkan dengan hasil
tes mental anak lain yang bergizi baik. Anak yang menderita gizi salah
mengalami kelelahan mental serta fisik, dan dengan demikian mengalami kesulitan
untuk berkonsentrasi di dalam kelas, dan seringkali ia tersisihkan dari
kehidupan sekitarnya.
Anak yang berasal dari keluarga dengan tingkat sosial
ekonomi rendah telah diteliti memiliki persentase di bawah ukuran normal bagi
tinggi dan berat badan anak sehat. Sedangkan hubungan antara zat gizi dan
produktivitas kerja telah dikenal baik sejak satu abad yang lalu oleh
orang-orang yang mempunyai budak belian yang melihat bahwa gizilah berarti
penurunan nilai modal. Produktivitas pekerja yang disiksa atau mendapat tekanan
akan memberikan hasil yang lebih rendah bila dibandingkan dengan keadaan yang
diurus dengan baik, dalam artian diberikan makanan yang bergizi cukup baik.
Gizi salah merupakan sebab-sebab penting yang berhubungan
dengan tingginya angka kematian di antara orang dewasa meskipun tidak begitu
mencolok bila dibandingkan dengan angka kematian di antara anak-anak yang masih
muda. Dampak relatif yang ditimbulkan oleh gizi salah ialah melemahkan daya
tahan tehadap penyakit yang biasanya tidak mematikan dan perbaikan gizi adalah
suatu faktor utama yang membantu meningkatkan daya tahan terhadap penyakit.
Status gizi juga berhubungan langsung dengan lamanya waktu yang diperlukan
untuk penyembuhan setelah menderita infeksi, luka, dan operasi yang berat.
F. Cara-Cara Perbaikan Status Gizi
Pengaturan makanan adalah upaya untuk meningkatkan status
gizi, antara lain menambah berat badan dan meningkatkan kadar Hb. Berikut
adalah pengaturan makanan yang bertujuan untuk meningkatkan status gizi:
§ Kebutuhan energi dan zat gizi ditentukan menurut umur, berat
badan, jenis kelamin, dan aktivitas;
§ Susunan menu seimbang yang berasal dari beraneka ragam bahan
makanan, vitamin, dan mineral sesuai dengan kebutuhan
§ Menu disesuaikan dengan pola makan;
§ Peningkatan kadar Hb dilakukan dengan pemberian makanan
sumber zat besi yang berasal dari bahan makanan hewani karena lebih banyak
diserap oleh tubuh daripada sumber makanan nabati;
§ Selain meningkatkan konsumsi makanan kaya zat besi, juga
perlu menambah makanan yang banyak mengandung vitamin C, seperti pepaya, jeruk,
nanas, pisang hijau, sawo kecik, sukun, dll.
G. Penanggulangan Masalah Gizi
Seperti yang telah kita ketahui, masalah gizi yang salah
kian marak di negara kita. Dengan demikian diperlukan penanggulangan guna
memperbaiki gizi masyarakat Indonesia. Berikut ini cara-cara yang dapat
dilakukan untuk menanggulangi gizi salah, baik gizi kurang maupun gizi lebih.
a) Penanggulangan masalah gizi
kurang
§ Upaya pemenuhan persediaan pangan nasional terutama melalui
peningkatan produksi beraneka ragam pangan;
§ Peningkatan usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK) yng
diarahkan pada pemberdayaan keluarga untuk meningkatkan ketahanan pangan
tingkat rumah tangga;
§ Peningkatan upaya pelayanan gizi terpadu dan sistem rujukan
dimulai dari tingkat Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), hingga Puskesmas dan
Rumah Sakit;
§ Peningkatan upaya keamanan pangan dan gizi melalui Sistem
Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG);
§ Peningkatan komunikasi, informasi, dan edukasi di bidang
pangan dan gizi masyarakat;
§ Peningkatan teknologi pangan untuk mengembangkan berbagai
produk pangan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat luas;
§ Intervensi langsung kepada sasaran melalui pemberian makanan
tambahan (PMT), distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi, tablet dan sirup besi
serta kapsul minyak beriodium;
§ Peningkatan kesehatan lingkungan;
§ Upaya fortifikasi bahan pangan dengan vitamin A, Iodium, dan
Zat Besi;
§ Upaya pengawasan makanan dan minuman;
§ Upaya penelitian dan pengembangan pangan dan gizi.
b) Penanggulangan masalah gizi
lebih
Dilakukan dengan cara menyeimbangkan masukan dan keluaran
energi melalui pengurangan makanan dan penambahan latihan fisik atau olahraga
serta menghindari tekanan hidup/stress. Penyeimbangan masukan energi dilakukan
dengan membatasi konsumsi karbohidrat dan lemak serta menghindari konsumsi
alkohol.
H. Penilaian Status Gizi
Status gizi adalah Ekspresi dari keadaan keseimbangan
dalam bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk
variabel tertentu, contoh gondok endemik merupakan keadaaan tidak seimbangnya
pemasukan dan pengeluaran yodium dalam tubuh.
Macam-macam penilaian status gizi
1.
Penilaian status gizi secara langsung
Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi
empat penilaian yaitu antropometri,
klinis, biokimia dan biofisik.
a.
Antropometri
§ Pengertian
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia.
Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan
berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai
tingkat umur dan tingkat gizi.
§ Penggunaan
Antropometri secara umum digunakan untuk melihat
ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat
pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan
jumlah air dalam tubuh.
b. Biokimia
§ Pengertian
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan
spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam
jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain : darah, urine, tinja
dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot.
§ Penggunaan
Metode ini digunakan untuk suata peringatan bahwa
kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi. Banyak
gejala klinis yang kurang spesifik, maka penentuan kimia faali dapat lebih
banyak menolong untuk menentukan kekurangan gizi yang spesifik.
c. Biofisik
§ Pengertian
Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode
penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat
perubahan struktur dari jaringan.
§ Penggunaan
Umumnya dapat digunaakan dalam situasi tertentu seperti
kejadian buta senja epidemik (epidemic of night blindnes). Cara yang digunakan
adalah tes adaptasi gelap.
I. Permasalahan Gizi Masyarakat
Permasalahan Gizi Masyarakat dapat dilihat pada bagan
berikut :
UNICEF (1988) telah mengembangkan kerangka konsep makro
(lihat skema.) sebagai salah satu strategi untuk menanggulangi masalah kurang
gizi. Dalam kerangka tersebut ditunjukkan bahwa masalah gizi kurang dapat
disebabkan oleh:
1.
Penyebab langsung
Makanan dan penyakit dapat secara langsung menyebabkan gizi
kurang. Timbulnya gizi kurang tidak hanya dikarenakan asupan makanan yang
kurang, tetapi juga penyakit. Anak yang mendapat cukup makanan tetapi sering
menderita sakit, pada akhirnya dapat menderita gizi kurang. Demikian pula pada
anak yang tidak memperoleh cukup makan, maka daya tahan tubuhnya akan melemah
dan akan mudah terserang penyakit.
2.
Penyebab tidak langsung
Ada 3 penyebab tidak langsung yang menyebabkan gizi kurang
yaitu :
§ Ketahanan pangan keluarga yang kurang memadai. Setiap
keluarga diharapkan mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota
keluarganya dalam jumlah yang cukup baik jumlah maupun mutu gizinya.
§ Pola pengasuhan anak kurang memadai. Setiap keluarga dan
mayarakat diharapkan dapat menyediakan waktu, perhatian, dan dukungan terhadap
anak agar dapat tumbuh kembang dengan baik baik fisik, mental dan sosial.
§ Pelayanan kesehatan dan lingkungan kurang memadai. Sistim
pelayanan kesehatan yang ada diharapkan dapat menjamin penyediaan air bersih
dan sarana pelayanan kesehatan dasar yang terjangkau oleh setiap keluarga yang
membutuhkan.
Ketiga faktor tersebut berkaitan dengan tingkat pendidikan,
pengetahuan dan ketrampilan keluarga. Makin tinggi tingkat pendidikan,
pengetahuan dan ketrampilan, makin baik tingkat ketahanan pangan keluarga,
makin baik pola pengasuhan maka akan makin banyak keluarga yang memanfaatkan
pelayanan kesehatan.
J.
Prpgram Perbaikan Gazi
Berangkat
dari besarnya masalah gizi dan kesehatan serta bervariasinya faktor penyebab
masalah ini antar wilayah, maka diperlukan program yang komprehensif dan
terintegrasi baik di tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional. Jelas sekali
kerja sama antar sektor terkait menjadi penting, selain mengurangi aktivitas
yang tumpang tindih dan tidak terarah.
Berikut ini merupakan pemikiran untuk program yang akan
datang, antara lain:
1.
Banyak
hal yang harus diperkuat untuk melaksanakan program perbaikan gizi, mulai dari
ketersediaan data dan informasi secara periodik untuk dapat digunakan dalam
perencanaan program yang benar dan efektif. Kajian strategi program yang
efisien untuk masa yang datang mutlak diperlukan, mulai dari tingkat nasional
sampai dengan kabupaten.
2.
Melakukan
penanggulangan program perbaikan gizi dan kesehatan yang bersifat preventif
untuk jangka panjang, sementara kuratif dapat diberikan pada kelompok
masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Bentuk program efektif seperti
perbaikan perilaku kesehatan dan gizi tingkat keluarga dilakukan secara
professional mulai dipikirkan, dan tentunya dengan ketentuan atau kriteria yang
spesifik lokal.
3.
Melakukan
strategi program khusus untuk penanggulangan kemiskinan, baik di daerah
perkotaan maupun perdesaan dalam bentuk strategi pemberdayaan keluarga dan
menciptakan kerja sama yang baik dengan swasta.
Secara bertahap melakukan
peningkatan pendidikan, strategi ini merupakan strategi jangka panjang yang
dapat mengangkat Indonesia dari berbagai masalah gizi dan kesehatan.
I.
Kesimpulan
Dari pembahasan maka dapat dibuat beberapa kesimpulan yaitu
:
§ Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan
makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absobsi,
transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak
digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari
organ-organ, serta menghasilkan energi.
§ Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam
bentuk variabel tertentu atau dapat dikatakan bahwa status gizi merupakan
indikator baik-buruknya penyediaan makanan sehari-hari
§ Indikator status gizi yaitu tanda-tanda yang dapat
memberikan gambaran tentang keadaan keseimbangan antara asupan dan kebutuhan
zat gizi oleh tubuh
§ Beberapa faktor yang memengaruhi status gizi seseorang yaitu
faktor lingkungan, faktor ekonomi, faktor sosial-budaya, faktor
biologis/keturunan, dan faktor religi.
§ Akibat yang ditimbulkan karena gizi salah (malnutrisi) akan
berpengaruh negatif terhadap perkembangan mental, perkembangan fisik,
produktivitas, dan kesanggupan kerja manusia.
§ Cara-cara perbaikan status gizi yaitu dengan pengaturan
makanan yang bertujuan untuk meningkatkan status gizi.
§ Penanggulangan masalah gizi terdiri dari: Penanggulangan
masalah gizi kurang dan Penanggulangan masalah gizi lebih
§ Gizi Daur Kehidupan. United Nations (Januari, 2000)
memfokuskan usaha perbaikan gizi dalam kaitannya dengan upaya peningkatan SDM
pada seluruh kelompok umur, dengan mengikuti siklus kehidupan. Pada bagan 1
dapat dilihat kelompok penduduk yang perlu mendapat perhatian pada upaya
perbaikan gizi.
§ Permasalahan Gizi Masyarakat. Penyebab langsung, Penyebab
tidak langsung, Pokok masalah di masyarakat dan Akar masalah.
§ Solusi Permasalahan Gizi Masyarakat. Menurut Hadi (2005),
solusi yang bisa kita lakukan adalah berperan bersama-sama, Peran Pemerintah
dan Wakil Rakyat (DPRD/DPR) dan Peran Perguruan Tinggi.
§ Program Perbaikan Gizi Dan Kesehatan Masa Depan. Berangkat
dari besarnya masalah gizi dan kesehatan serta bervariasinya faktor penyebab
masalah ini antar wilayah, maka diperlukan program yang komprehensif dan
terintegrasi baik di tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional. Jelas sekali
kerja sama antar sektor terkait menjadi penting, selain mengurangi aktivitas
yang tumpang tindih dan tidak terarah.
Daftar
Pustaka
Abunain Djumadias, 1990, Aplikasi
Antropometri sebagai Alat Ukur Status Gizi, Puslitbang Gizi Bogor.
Adisasmito,Wiku P.hd.2007 SISTEM
KESEHATAN ,Raja grafindo persada : Jakarta
Alamtsier.2005 PRINSIP DASAR ILMU
GZI.Gramedia pustaka utama: JakartA.
Arisman,DR MB.2007 GIZI DALAM DAUR
KEHIDUPAN.EGC : Jakarta
Depkes, RI, 2004, Analisis Situasi
Gizi dan Kesehatan Masyarakat, Jakarta
Hartriyanti,yayuk.2007 GIZI DAN
KESEHATAN MASYARAKAT, Raja grafindo persada
Jakarta
Indrawani,Yvonne M.2007 GIZI DAN
KESEHATAN MASYARAKAT. Raja grafindo
Persada : Jakarta
Kemenkes RI 2010.KEPMENKES TENTANG
STANDAR ANTROPOMETRI PENILAIAN
STATUS
GIZI ANAK.Direktorat Bina Gizi.Jakarta.
Subandi,
M. 2017. Takkan Sanggup Bertahan Hidup Tanpa Air. Buku 1 (1), 171
Subandi,
M (2013). Physiological Pattern of Leaf Growth at Various Plucking Cycles
Applied to Newly Released Clones of Tea Plant (Camellia sinensis L. O.
Kuntze).Asian Journal of Agriculture and Rural Development, 3(7) 2013: 497-504
Subandi,
M.,(2005). Pembelajaran Sains Biologi dan Bioteknologi dalam Spektrum
Pendidikan
yang Islami Media Pendidikan (Terakreditasi Ditjen Dikti-Depdiknas). 19 (1),
52-79
Subandi,
M, Dikayani, E Firmansyah (2018).
Production of reserpine of Rauwolfia
serpentina
(L) kurz ex benth through in vitro culture enriched with plant growth
regulators of NAA and kinetin. International Journal of Engineering &
Technology 7 (2.29), 274-278.
Subandi,
M, Eri Mustari, Ari S. (2018). The
Crossing Effect of Dragon Fruit Plant Caltivars
(Hylocereus
Sp.) on Yield. International Journal of Engineering & Technology 7 (2,29),
762-765.
Subandi,
M., Y. Setiati, N.H. Mutmainah. (2017). Suitability of Corcyra cephalonica eggs
parasitized
with Trichogramma japonicum as intermediate host against sugarcane borer Chilo
auricilius. Bulgarian Journal of
Agricultural Science. 23 (5). 779-786.
Subandi,
M. (2014) Comparing the Local Climate Change and its Effects on Physiological
Aspects
and Yield of Ramie Cultivated in Different Biophysical Environments. Asian Journal of Agriculture and Rural
Development 4 (11), 515-524.
Subandi,
M (2011) .BudidayaTanaman Perkebunan. Buku Daras. Gunung Djati Press.
Heterotophic
growth of Ankistrodesmus sp. for lipid production using cassava starch
hydrolysate as a carbon source
Mohamad
agus Salim (2013), Heterotophic growth of Ankistrodesmus sp. for lipid
production
using cassava starch hydrolysate as a carbon source. The International Journal
of Biotechnology 2 (1), 42-51
Mohamad
Agus Salim (2015) . Kadar Lipida Scenedesmus sp Pada kondisi Miksotrop dan
Penambahan Sumber Karbon dari
Hidrolisat Pati Singkong. Jurnal Istek. 9 (2) 4
Mohamad
Agus Salim (2012). Pengaruh Antraknosa (Colletotrichum Capsici Dan
Colletotrichum Acutatum) Terhadap
Respons Ketahanan Delapan Belas Genotipe Buah Cabai Merah (Capsicum Annuum
L).JURNAJurnal Istek (1-2) 2
Mohamad
Salim, Y Yuniarti, RM Hasby, (2011). Pengaruh CO2 Terhadap Pertumbuhan
Staurastrum sp. Jurnal Istek. 5 (1-2)
Mohamad
Agus Salim (2012b). Biomass and lipid content of heterotrophic Spirogyra sp by
using cassava starch hydrolysate. Jurnal
Int. J. Eng. Res. Dev. 6 (6) : 21-26.
Mohamad
Agus Salim .(2015). Penggunaan Limbah Cair Tahu untuk Meningkatkan
Pertumbuhan
dan Produksi Biodisel dari Mikroalga Scenedesmus sp. Jurnal Istek, 7(1): 2015
Mohamad
Agus Salim, Yeni Yuniarti, Opik Taufikurohman. (2013). Production of Biodiesel
and
Growth of Staurastrum sp. in Response to CO2 Induction. Asian Journal of Agriculture and Rural
Development, 3 (2):67-73.
Mohamad
Agus Salim. (2013). The time variation of Saccharomyces cerevisiae inoculation
in
simultaneous saccharification and fermentation of cocoa (Theobroma cacao L.)
pod for bioethanol pro. Journal of Asian Scientific Research, 3 (3) :268-273.
Mohamad
Agus Salim. (2013b). The Effect of pH on simultaneous saccharification and
fermentation
process of water hyacinth (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms.) using
Trichoderma harzianum an... Jurnal Int. J. Eng. Res. Dev. 6(8):53-57.
Mohamad
Agus Salim. (2015b). Pengaruh Antraknosa (Colletotricum capsici dan C.
Acutatum)
Terhadap Respons Ketahanan Delapan Belas
Genotive Buah Cabai Merah (Capsicum annun L.). Jurnal Istek. 6 (1-2):
MTA Hakim ,2021. Pengaruh
penjualan online dan frekuensi tampil iklan terhadap pertumbuhan usaha sepatu
di wilayah Cibaduyut, , Digital Library,. 2021.UIN Sunan Gunung Djati Bandung
S Ginandjar, A Rahmadi, MT
Abdulhakim, M Subandi. 2020. Economic
Analysis of Potato Seed in West Java, Indonesia. Asian Journal of Agriculture and Rural Development 10 (4),
756-763
TA Muhammad, SA Dhifa. 2018.Model
Perhitungan Zakat Pertanian Dan Perhitungan Ekonomik Zakat di Kecamatan
Cileunyi Kabupaten Bandung [Calculation Model of Agricultural Zakat and
Economic Calculation of …University Library of Munich, Germany, 2018. MPRA Paper